“Nobi, cepetan mandinya nanti telat
loh, ini kan hari pertama kamu sekolah, sarapannya dengan mobilnya sudah siap
tuh, ayah dan bunda berangkat ke kantor sekarang yah.” ucap bunda Nobi dari
balik pintu kamarnya.
Nobi segera berlari dan menyusul
bundanya yang berjalan menuju garasi.
“Bunda… Bunda…” teriak Nobi
memanggil bundanya.
Bundanya menoleh ke arah Nobi dan
berjalan kembali ke teras rumah.
“Ada apalagi, Nak? Bunda lagi
buru-buru nih, ada meeting pagi di
kantor.”
“Semalam bunda janji mau nganterin
Nobi ke sekolah baruku, kok sekarang malah ninggalin sih, Bun?”
“Iya, maaf yah. Soalnya ini mendadak
Nobi, baru dini hari tadi bunda ditelepon sama sekretaris, katanya ini penting
banget. Bunda janji deh besok nganterin Nobi ke sekolah, yah?”
“Ah bunda gak asik, ya sudah, sana
pergi! Nobi mau mandi” ucap Nobi dengan wajah lesu.
“Loh kok murung sih anak bunda?
Senyum dong! Eh, bunda berangkat yah, bye.”
Nobi pun memasuki rumah dan berjalan
menuju kamarnya kembali. Dia memang kelihatan seperti anak manja tetapi
sebenarnya dia cowok banget kok, dia cuma ingin bunda dan ayahnya bisa
meluangkan sedikit waktunya untuk Nobi. Kalau dipikir-pikir, dalam sehari Nobi
hanya bertemu ayah dan bundanya ketika sarapan pagi, orang tuanya sangat sibuk
mengurus bisnisnya. Sampai-sampai waktu akhir minggu saja mereka selalu duduk
di depan laptop, mengetik sesuatu yang mungkin sangat penting bagi mereka.
Nobi selalu bertanya pada orang
tuanya tentang apa tujuan mereka menyibukkan diri seperti itu. Orang tuanya pun
hanya menjawab bahwa itu semua mereka lakukan untuk masa depan Nobi, anak
satu-satunya yang dimiliki mereka.
Pagi itu cuaca sangat tidak
bersahabat, hujan lebat turun ketika Nobi bersiap untuk berangkat ke sekolah.
Suasana seperti itu malah membuat Nobi mengantuk dan tidak bersemangat
berangkat ke sekolah. Tapi ini adalah hari pertama dia duduk di bangku SMA. Dia
masuk ke dalam Mazda silver yang terletak di garasi dan mengendarainya menuju
sekolah yang berjarak 5 Km dari rumahnya. Saat itu, waktu menunjukkan pukul
06.30 WITA.
Gerbang sekolah itu sudah di depan
mata, SMA Dian Harapan. Salah satu sekolah swasta favorit yang terletak di
Makassar, Sulawesi Selatan. Tidak sembarang orang yang bisa bersekolah di
tempat ini. Butuh banyak duit untuk membayar biaya sekolah tersebut. Dan Nobita
adalah salah satu remaja yang mendapat kesempatan untuk bersekolah di tempat
tersebut karena dia adalah anak seorang pengusaha yang cukup kaya.
Segera Nobi memarkir mobilnya di parkiran sekolah
barunya itu. Kemudian ia berjalan mencari kelasnya. Dia menulusuri koridor dan
berusaha mencari namanya didaftar yang telah tertera di setiap pintu kelas.
Akhirnya Nobi menemukannya, namanya tertera di pintu kelas X.1. Dia melangkah
memasuki ruangan itu dan tiba-tiba dia berhenti ketika matanya tertuju pada
seseorang yang duduk di pojok kanan belakang.
“Remmy?”sahut Nobita dengan wajah kaget.
“Nobita? Ya ampuun, gue ga nyangka bisa ketemu lo di
sini.”
“Gue juga, kemana aja lu selama ini, tiba-tiba
ngilang dan ga ninggalin kabar.”
“Iya, maaf! Waktu itu nyokap gue sakit parah dan
harus berobat di Amrik. Jadi gue ngikut deh, dan berhubung waktu kecil gue
masih ga tau apa-apa jadi yah ga bisa ngabarin lo deh hehe.”
“Oh gitu. Eh, gue duduk di samping lo aja yah? Ga
papa kan?”
“Sip, ga papa! Eh, lo makin cool aja!
“Ah masa sih? Lo juga, makin cakep kok tapi lebih
cakepan gue sih haha.”
“Idih, pede banget lo!” sindir Remmy.
“Haha, eh jadi sekarang nyokap lo kabarnya gimana?
Udah sehat?”
“Nyokap udah meninggal 3 bulan yang lalu” jawab
Remmy dengan wajah sedih.
“Innalillahiwainnailaihirojiun, maaf yah Rem!”
“Iya, ga papa kok, lu ga salah” sahut Remmy.
KRINGGGGGG!!! Bel sekola berbunyi, bertanda
pelajaran akan segera dimulai.
Percakapan Nobi dan Remmy pun terhenti, mereka
mengambil buku dari tas masing-masing dan meletakkannya di atas meja. Terlihat
seorang guru perempuan memasuki ruangan kelas 5 menit setelah bel berbunyi.
“Assalamualaikum and good morning” pinta guru itu ketika berdiri di depan kelas.
Karena hari ini adalah hari pertama siswa baru masuk
sekolah maka belum ada proses belajar mengajar. Mereka hanya perkenalan.
Berkenalan dengan guru barunya, sesama teman kelas, dan berkeliling bersama
melihat kondisi sekolah barunya tersebut.
Nobita sangat senang karena tidak hanya bertemu
dengan sahabat kecilnya Remmy tapi bisa mendapat teman-teman baru juga suasana
sekolah baru dan cukup mewah. Sebelumnya Nobi hanya bersekolah di sekolah
negeri yang biasa-biasa saja, itu karena orang tuanya tidak sempat mencarikan
sekolah yang bagus ketika keluarganya pindah ke Makassar.
Ketika pulang sekolah, Nobita mengajak Remmy ikut
dimobilnya. Karena kebetulan Remmy tidak bawa mobil akhirnya dia menerima
tawaran Nobi. Ketika keluar dari gerbang sekolah, Nobita tidak menuju pulang,
dia membelokkan mobilnya ke lorong kecil di samping sekolahnya.
“Eits, kita mau kemana nih, Nob?” tanya Remmy dengan
wajah khawatir.
“Jangan khawatir, gue Cuma penasaran kok, ada apa di
dalam lorong kecil ini, soalnya tadi pagi waktu gue lewat sini, ada suara
gemuruh-gemuruh. Kita liat dulu yah!”
“Wah wah, jangan Nob! Siapa yang tahu kalo di sini
tempatnya aman atau ga. Tuh liat aja, ga ada orang di sini. Yuk mutar balik
aja, takut nih gue.” ajak Remmy.
“Ga usah panik, Rem! Gue yang tanggung jawab kok
kalo ada apa apa. Lagi pula tempatnya emang ga ada orang tapi ga serem kok. Elu
nya aja yang lebay!” ledek Nobita pada cowo sahabat kecilnya itu.
Remmy pun hanya duduk diam dengan wajah yang
was-was. 5 menit kemudian, Nobita dan Remmy terkejut melihat apa yang ada di
depan matanya. Pantai berpasir putih yang sangat indah, taman-taman bunga yang
tertata rapi, dan ombak yang sangat indah.
“Wah, tempat seindah ini kok ga ada yang kunjungin.”
sahut Remmy.
“Iyayah, padahal lorong di depan tadi kelihatan ga
terurus tapi kok di sini keren banget yah. Eh, turun yuk!” ajak Nobita.
Mereka berdua turun dari mobil. 100 meter dari
tempat berdirinya mereka, ada seorang perempuan remaja yang sedang menyapu
daun-daun yang berguguran. Nobita melihat perempuan tersebut dan
menghampirinya. Sedangkan Remmy berjalan menuju bibir pantai dan menikmati
segarnya udara di tempat itu.
“Permisi mba” sapa Nobita pada gadis itu.
“Iya, mas. Ada perlu apa?” jawab gadis itu dengan
wajah manis.
“Mau nanya tentang tempat ini…”
“Hm, saya sudah tahu maksud anda. Anda mau tahu kan
siapa yang membuat tempat ini menjadi indah seperti sekarang dan anda juga mau
tahu kan kenapa lorong di depan sangat tidak menarik untuk dikunjungi juga
tidak ada keramaian di tempat segar seperti ini, kan?”
“Iya, tepat sekali. Kenapa ya mba?”
“Yang membuat taman bunga ini ayahku. Di sini
rumahku, aku tinggal dengan keluargaku. Tanah ini warisan dari nenek yang sudah
meninggal. Dan ketika keluargaku tinggal di sini, ayahku membuat suasananya
seperti sekarang, asri, indah, dan sejuk. Tak ada seorang pun yang bosan dengan
suasana seperti ini. Ayah juga sengaja tidak memperbagus lorong di depan itu,
karena jika dibuat bagus seperti di dalam sini maka banyak orang yang tertarik
dan berkunjung ke rumah kita. Eh, mas kok bisa ada di sini?”
“Oh, wah, keren banget konsep bokap lu. Hm, gue
murid baru di SMA Dian Harapan. Dan tadi pagi gue penasaran banget dengan
lorong kecil di depan itu. Akhirnya pas pulang skolah, gue ke sini deh. Dan
ternyata di luar bayangan gue. Tempat ini sangat indah. Eh, itu rumah lu?”
“Iya, itu rumahku. Di dalem ada mama, papa, juga
adikku, mau mampir ngeteh?”
“Ga usah, gue duduk di sini aja. Eh, temenan ama lu
boleh ga?
“Ah? Hm, boleh lah, asal mas ini orang baik-baik.”
“Waduh, emang muka gue muka orang ga baik yah?
Sumpah demi apapun, gue anak baik-baik kok! Beneran! Suer!”
“Iya iya, percaya kok mas.”
“Hm, lu skola di mana?”
“SMA Dian Harapan juga.”
“Hah? Oh yah? Kelas berapa?”
“Kelas X.2, kamu X.1 kan? Tadi saya ngeliat kamu kok
waktu jalan ke kantin bareng teman kamu yang itu” sahut cewe itu sambil
menunjuk pada Remmy yang sedang asyik menikmati angin sepoi-sepoi pantai.
“Lain kali gue masih boleh jalan-jalan ke sini kan?
Kan sekarang kita udah temanan.” Sahut Nobi dengan ramah.
“Mana ada orang temanan tapi belum tau nama
masing-masing.”
“Oh iya, lupa hehe. Nama gue Nobita, lu?”
“What? Nobita? Sama dengan nama tokoh kartun
kesukaan gue! Nama gue Syilakhanza. Panggil Syila aja.”
“Oh, Syila. Hm, kata orang sih karena nama gue
Nobita makanya gue harusnya suka tokoh kartun Nobita juga tapi gue ngga tuh,
malah gue lebih suka sahabatnya Nobita, Doraemon, yang sikapnya lebih dewasa,
juga ngga males kayak si Nobita hihi.”
“Aku suka Nobita dan kamu suka Doraemon. Mereka
berdua kan sahabatan, mungkin aja suatu saat kita bisa sahabatan seperti mereka
berdua”
“Hahaha, amin. Dan semoga aja lebih dari sahabat.”
“Hah?”
“Hehe, ga bercanda kok. Eh, gue balik sekarang yah,
udah sore nih, sampai jumpa besok di skolah! Makasih udah mau kenalan dengan
gue, Syila!” sahut Nobita sambil berjalan menuju mobilnya.
Syila hanya tersenyum dengan kehadiran teman barunya
itu. Cowok yang sok kenal dan sok akrab juga polos dan menginginkan Syila untuk
berteman dengannya. Mungkin cowok itu adalah teman SMAnya yang pertama, itu
karena dari awal Syila masuk di sekolah itu, dia tidak ingin kenal satupun
diantara teman sekolahnya. Syila berpendapat kalau siswa-siswi yang bersekolah
di sana pasti kebanyakan orang yang berlebihan uang dan hanya bisa mengandalkan
uang untuk hidupnya. Syila tidak suka dengan hal itu, dia lebih menyukai orang
yang berusaha dengan benar dan mencapai kebahagiaan di hidupnya, tidak hanya
mengandalkan hasil usaha dari orang tua mereka.
Keesokan harinya di sekolah, Nobita, Remmy, dan
Syila tampak sering bersama ketika waktu istirahat. Dan ketika istirahat kedua,
terdengar pengumuman bahwa pendaftaran ekskul bola basket dibuka mulai hari
ini. Saat itu Nobita sedang ngemil makan bersama Remmy dan Syila. Dan saat itu
juga, Nobita bergegas ke ruang ekskul basket dan antri mengambil formulir.
Remmy juga Syila lantas kaget melihat respon Nobita saat itu. Mereka pun
menyusul dan menggelengkan kepala bersamaan ketika melihat Nobita sedang antri
di depan ruang ekskul basket.
“Ya ampun, Nobita lebay banget. Buat ngambil
formulir ekskul basket aja semangat banget, sampe ga permisi ama kita berdua.”
sahut Remmy.
“Iya, eh tapi gue juga niat nih daftar ekskul
basketnya, gue ikut ngantri yah. Bye” Syila berjalan mejauhi Remmy.
Karena Remmy tidak begitu tertarik dengan dunia
basket, akhirnya Remmy kembali ke kelas, mengambil i-podnya dan bersantai menunggu bel masuk berbunyi. Hingga Remmy
pun tertidur pulas di bangku kelasnya.
Ternyata bel masuk tidak berbunyi sampai waktu
pulang, tidak ada proses belajar mengajar, itu dikarenakan siswa yang antri
ingin mengambil formulir ekskul basket hampir 80% dari jumlah keseluruhan siswa
baru di SMA Dian Harapan. Memang 5 tahun belakangan ini, ekskul basket di
sekolah tersebut adalah idola banyak siswa. Mungkin karena SMA Dian Harapan
selalu memperoleh juara tingkat kota, provinsi, maupun nasional.
Untuk bisa masuk menjadi anggota ekskul basket,
bukan hal yang mudah. Ada dua tes yang dilakukan, tes kesehatan dan tes fisik.
Yang paling berat yaitu tes fisik. Di sini calon anggota ekskul basket dikuras
tenaganya sebanyak mungkin, karena penilai ingin melihat batas kekuatan fisik
masing-masing peserta. Seperti yang dikatakan hukum alam bahwa yang kuat yang
adalah pemenang.
Keesokan harinya, Nobita dan Syila pun menjalani
tes-tes tersebut, mereka sangat bersemangat. Tes tersebut berlangsung dari
pukul 7 pagi hingga pukul 5 sore. Setelah itu Syila langsung bergegas pulang. Tiba-tiba
dari belakang Syila mendengar suara klakson mobil. Orang itu Nobita, dia
menawarkan Syila untuk diantar pulang, tapi sangat tidak logis, rumah Syila
berjarak dekat sekali dari sekolah, hanya butuh waktu kurang lebih 5 menit.
Tetapi Nobita tetap mengotot dan akhirnya Syila pun menyerah dan menerima
tawaran Nobi.
Sesampainya di rumah Syila, ada adiknya yang sedang
bermain kelerang sendirian di pesisir pantai. Syila pun menunjuk adiknya dan
berkata pada Nobi.
“Itu adikku, namanya Osyi, dia SMP kelas 2 tetapi
masih saja gemar main kelereng.”
“Hahaha, gak aneh kok, itu emang wajar bagi cowo,
kalo cewe baru aneh.”
“Hm, tau gak, dia itu punya idola loh di sekolahnya,
katanya kakak kelasnya tapi sekarang sudah SMA kelas X, dan dia gak tau
sekarang kakak kelasnya itu sekolah dimana. Dia sangat sedih loh, padahal dia
tau segalanya tentang kakak kelasnya itu kecuali tempat tinggalnya juga nomor
teleponnya. Dia juga ngoleksi foto-foto kakak kelasnya itu, tapi gak pernah
dikasi liat ke gue, katanya rahasia, namanya aja ga mau dikasi tahu ke gue. Dan
dia gak pernah sempat kenalan dengan idolanya itu, soalnya katanya kakak
kelasnya rada-rada sombong sama adik kelas. Sekarang Osyi sedih banget,
kebanyakan murung di rumah.”
“Wah, saking idolanya sampe sedih banget yah?”
“Iya, ga tau tuh anak, lebay banget!”
“Eh, aku ga mampir yah, barusan ada sms dari
bundaku, minta dianterin ke salon.”
“Oh, iya, makasih yah, Nob!” kata Syila sambil membuka
pintu mobil.
Keesokan harinya di sekolah, telah tercantum daftar
siswa-siswi yang lolos masuk ekskul basket. Banyak sekali yang berebutan ingin
melihatnya di papan pengumuman sekolah. Salah satu digerombolan itu adalah
Nobita. Dengan teliti Nobita mencari namanya di daftar tersebut. Dan ternyata
namanya tercantum di urutan pertama dengan nilai 100 tes kesehatan dan 95 tes
fisik. Dia juga melihat nama Syila tercantum pada urutan 12 kategori cewek.
Ketika istirahat Syila bergegas ke kelas Nobita.
Cewek itu memberikan ucapan selamat pada Nobita karena telah memperoleh nilai
paling tinggi pada tes ekskul basket.
“Wah, Nobita hebat banget! Selamat yah! Kok lo hebat
banget sih? Pantesan lo waktu itu buru-buru banget daftar ekskul basket.”
“Haha, makasih. Biasa aja kok. Dari kecil gue emang
gemar basket.”
“Wetss, asik banget lu, Nob!”
Setelah pulang sekolah, Nobita mengajak Syila untuk
pulang bareng lagi. Syila sudah tau kalau dia menolak pasti Nobita tetap
memaksa. Jadi dia hanya mengiyakan ajakan Nobita.
Satu tahun berlalu, Nobita, Syila dan Remmy sekarang
sangat bersahabat. Mereka bertiga sering bersama di sekolah maupun di luar
sekolah.
Suatu hari mereka janjian nongkrong bareng di Ice
Café dekat sekolah pukul 4 sore tetapi Remmy tiba-tiba batal datang karena pacarnya
minta ditemani mencari baju untuk perlombaan busana esoknya. Hal itu bisa
dimaklumi oleh kedua sahabatnya karena mereka tau kalau Remmy sangat sayang
pada pacarnya. Pacarnya juga kelihatan baik.
Akhirnya hanya Syila dan Nobita yang datang. Saat
itu mereka berdua membawa laptop jadi mereka sibuk online dan tidak banyak
ngobrol. Sampai pukul 7 malam, mereka hanya berdiam diri sambil sibuk dengan
dunia maya masing-masing. Tetapi tiba-tiba tangan Nobi memegang tangan Syila.
Syila pun kaget dengan hal itu, ia
langsung mengarahkan pandangannya pada Nobi.
“Gue sayang sama lo Syil! Lo sayang ga sama gue?”
“Hah? Hm, yaiyalah gue sayang sama lo juga sama Remmy,
kita kan sahabat dan sahabat itu selalu ada kasih sayang di dalamnya, kan?”
“Tapi rasa sayang gue beda ke lo Syil. Gue cinta
sama lo, dan mau ga lo jadi pacar gue?”
Syila kaget dan kaku ketika mendengar ucapan Nobita.
Sebenarnya dari awal bertemu Syila sudah menyukai Nobi tetapi dia tidak
langsung cinta. Cintanya pada Nobi tiba-tiba tumbuh ketika mendengar ucapan
Nobi barusan. Tetapi Syila takut kalau hubungan spesial diantara mereka berdua
akan merusak persahabatan mereka.
“Hm, jujur yah Nob. Gue juga sayang dan cinta sama
lo, tapi bagaimana dengan persahabatan kita?”
“Sahabat tetap sahabat, kita menjalin dua ikatan.
Pacar dan sahabat, bukankah itu bisa membuat kita untuk lebih saling mengerti?”
“Hm, jadi sekarang?”
“Kita pacaran!”
“Hehe, iyaiya. Eh, apa ini harus dikabarkan pada
Remmy ga”
“Kabarin dong, tapi besok aja pas sekolah. Sekarang
pulang yuk, udah malem.”
“Yuk, kamu pulang aja, ga usah nganterin, kan
rumahku deket banget.”
“Gak gak gak, aku antar kamu pulang! Harus! Gak
boleh nolak!”
“Hm, emang yah kamu tuh keras kepala banget dan
kurang kerjaan banget. Rumah aku deket banget masih aja mau dianterin.”
“Kan aku pacar kamu, harus ngejagain kamu dong,
hehe.”
“Hahaha”, Syila hanya tertawa mendengar perkataan
Nobita yang sok ngegombal.
Sesampainya di rumah Syila, Nobita tidak mampir ke
rumah pacarnya itu, selain karena sudah malam dia juga capek duduk online di
kafe sejak tadi sore.
“Aku gak mampir yah, udah malem soalnya.”
“Iya, gapapa. Sampe rumah langsung istirahat yah.”
“Wah wah wah, Syila perhatiannya. Makin makin makin
sayang deh.”
“Huh, sudah sana pulang! Aku masuk yah, bye!
Makasih, hati-hati!”
“Iya, byeeee!”
Keesokan harinya di sekolah, Syila dan Nobita tampak
dekat seperti biasanya, tidak ada tingkah laku yang berlebihan diantara mereka
berdua. Dan ketika Remmy bergabung dengan mereka berdua, Nobita pun
memberitahukan tentang apa yang terjadi kemarin sore di kafe.
“Wah, akhirnya kalian jadian juga. Lagian sih, Nobi
curhat ke gue kalo dia sayang Syila. Terus Syila juga curhat kalo dia sayang
Nobi. Susah banget yah satuin kalian berdua, sampe setahun lamanya.”
Mereka bertiga tertawa dan bercanda ria bersama
sampai bel masuk berbunyi. Sepulang sekolah, Nobi dan Syila langsung ke ruang
ekskul basket. Ekskul basket sekarang sudah jadi aktifitas rutin bagi mereka
berdua. Semakin hari, prestasi Nobita di ekskul basket makin meningkat. Syila
pun tak kalah hebat. Mereka berdua adalah ketua tim basket. Dan tak jarang
mereka membawa pulang piala kemenangan.
Semakin hari hubungan Syila dan Nobi semakin
harmonis. Kadang memang terjadi perbedaan pendapat diantara keduanya tetapi
mereka selalu menanggapi perbedaan tersebut dengan kepala dingin. Mereka saling
menghargai dan ketika ada salah paham, mereka selalu menyelesaikannya dengan
baik-baik tanpa emosi.
Di suatu pagi ketika Nobi duduk berjemur di pinggir
kolam renang rumahnya. Dia membayangkan betapa bahagianya hidupnya saat itu.
Begitu baiknya Allah yang telah memberikan semua ini pada Nobi. Dia sangat
bersyukur dengan keadaannya sekarang. Tetapi ada yang ganjal diantara semua
ini. Nobi adalah pacar Syila tapi dia tak pernah sekalipun berbincang dengan adik
Syila.
Sore harinya, Nobi pergi ke rumah Syila tanpa
mengabari sebelumnya. Dia ingin kenal dengan adik pacarnya itu. Selama ini Nobi
hanya ngobrol dengan ayah ibu Syila dan jarang sekali melihat adiknya.
Tetapi ketika perjalanan ke rumah Syila, mobil Nobi
mengalami kecelakaan. Kecelakaan itu sangat tragis. Nobi terluka parah. Warga
sekitar kejadian itupun membawanya ke rumah sakit. Dia harus dioperasi saat itu
juga. Jadi tanpa menunggu kedatangan keluarga Nobi, akhirnya Nobi pun
dioperasi.
Saat Syila, Remmy dan ayah ibu Nobi sudah berada di
rumah sakit, operasi sudah usai. Hasilnya Nobita lumpuh. Kaki kanannya
diamputasi. Berita yang sangat mengejutkan. Saat dokter memberitahukan hal
tersebut ke mereka, suasana menjadi canggung dan hening. Kesedihan tiba-tiba
tampak diwajah Syila, Remmy dan juga ayah ibu Nobi.
Saat itu semuanya hanya pasrah dan merasa tak
sanggup menjenguk Nobi yang sedang berada di ruang operasi. Keadaan Nobi masih belum
siuman. Semuanya hanya sanggup mengintip dari jendela ruang operasi dengan raut
wajah yang sangat sedih. Tak ada harapan lagi bagi Nobi untuk bisa bermain
basket kembali. Kecelakaan yang sangat menusuk banyak hati orang-orang di
sekitar Nobi, termasuk Nobi sendiri.
Dua hari kemudian, Nobita pun sadar dari masa
komanya. Saat itu, ia membuka matanya dengan perlahan-lahan, terlihat kabur di
sampingnya ada seorang perempuan yang sedang duduk tersenyum melihat Nobi. Dan
ternyata perempuan itu Syila. Syila tersenyum tetapi matanya yang sembab tak
bisa ia sembunyikan. Dengan terbata-bata, Nobi bertanya pada Syila.
“Kenapa nangis, Syil? Gue sekarang udah sadar, ga
usah sedih, nanti gue bakal sembuh kok. Dan bakal ngaterin lo kemana pun lo
mau. Janji.”
Saat itu Syila makin tak bisa menahan tangisannya.
Keluar lebih banyak lagi air mata dari matanya yang indah itu. Dan dengan suara
yang sangat pelan, Syila menjawab.
“Ga perlu janji, Nob. Dengan keadaan lo kayak
sekarang aja gue udah sayang banget ama lo. Ga usah beri janji-janji sama gue.
Gue bukan cewe yang banyak maunya. Gue nerima lo apa adanya. Meskipun….”
tangisan Syila makin menambah.