Thursday, 26 April 2018

NOBITA


            “Nobi, cepetan mandinya nanti telat loh, ini kan hari pertama kamu sekolah, sarapannya dengan mobilnya sudah siap tuh, ayah dan bunda berangkat ke kantor sekarang yah.” ucap bunda Nobi dari balik pintu kamarnya.
            Nobi segera berlari dan menyusul bundanya yang berjalan menuju garasi.
            “Bunda… Bunda…” teriak Nobi memanggil bundanya.
            Bundanya menoleh ke arah Nobi dan berjalan kembali ke teras rumah.
            “Ada apalagi, Nak? Bunda lagi buru-buru nih, ada meeting pagi di kantor.”
            “Semalam bunda janji mau nganterin Nobi ke sekolah baruku, kok sekarang malah ninggalin sih, Bun?”
            “Iya, maaf yah. Soalnya ini mendadak Nobi, baru dini hari tadi bunda ditelepon sama sekretaris, katanya ini penting banget. Bunda janji deh besok nganterin Nobi ke sekolah, yah?”
            “Ah bunda gak asik, ya sudah, sana pergi! Nobi mau mandi” ucap Nobi dengan wajah lesu.
            “Loh kok murung sih anak bunda? Senyum dong! Eh, bunda berangkat yah, bye.
            Nobi pun memasuki rumah dan berjalan menuju kamarnya kembali. Dia memang kelihatan seperti anak manja tetapi sebenarnya dia cowok banget kok, dia cuma ingin bunda dan ayahnya bisa meluangkan sedikit waktunya untuk Nobi. Kalau dipikir-pikir, dalam sehari Nobi hanya bertemu ayah dan bundanya ketika sarapan pagi, orang tuanya sangat sibuk mengurus bisnisnya. Sampai-sampai waktu akhir minggu saja mereka selalu duduk di depan laptop, mengetik sesuatu yang mungkin sangat penting bagi mereka.
            Nobi selalu bertanya pada orang tuanya tentang apa tujuan mereka menyibukkan diri seperti itu. Orang tuanya pun hanya menjawab bahwa itu semua mereka lakukan untuk masa depan Nobi, anak satu-satunya yang dimiliki mereka.
            Pagi itu cuaca sangat tidak bersahabat, hujan lebat turun ketika Nobi bersiap untuk berangkat ke sekolah. Suasana seperti itu malah membuat Nobi mengantuk dan tidak bersemangat berangkat ke sekolah. Tapi ini adalah hari pertama dia duduk di bangku SMA. Dia masuk ke dalam Mazda silver yang terletak di garasi dan mengendarainya menuju sekolah yang berjarak 5 Km dari rumahnya. Saat itu, waktu menunjukkan pukul 06.30 WITA.
            Gerbang sekolah itu sudah di depan mata, SMA Dian Harapan. Salah satu sekolah swasta favorit yang terletak di Makassar, Sulawesi Selatan. Tidak sembarang orang yang bisa bersekolah di tempat ini. Butuh banyak duit untuk membayar biaya sekolah tersebut. Dan Nobita adalah salah satu remaja yang mendapat kesempatan untuk bersekolah di tempat tersebut karena dia adalah anak seorang pengusaha yang cukup kaya.
Segera Nobi memarkir mobilnya di parkiran sekolah barunya itu. Kemudian ia berjalan mencari kelasnya. Dia menulusuri koridor dan berusaha mencari namanya didaftar yang telah tertera di setiap pintu kelas. Akhirnya Nobi menemukannya, namanya tertera di pintu kelas X.1. Dia melangkah memasuki ruangan itu dan tiba-tiba dia berhenti ketika matanya tertuju pada seseorang yang duduk di pojok kanan belakang.
“Remmy?”sahut Nobita dengan wajah kaget.
“Nobita? Ya ampuun, gue ga nyangka bisa ketemu lo di sini.”
“Gue juga, kemana aja lu selama ini, tiba-tiba ngilang dan ga ninggalin kabar.”
“Iya, maaf! Waktu itu nyokap gue sakit parah dan harus berobat di Amrik. Jadi gue ngikut deh, dan berhubung waktu kecil gue masih ga tau apa-apa jadi yah ga bisa ngabarin lo deh hehe.”
“Oh gitu. Eh, gue duduk di samping lo aja yah? Ga papa kan?”
“Sip, ga papa! Eh, lo makin cool aja!
“Ah masa sih? Lo juga, makin cakep kok tapi lebih cakepan gue sih haha.”
“Idih, pede banget lo!” sindir Remmy.
“Haha, eh jadi sekarang nyokap lo kabarnya gimana? Udah sehat?”
“Nyokap udah meninggal 3 bulan yang lalu” jawab Remmy dengan wajah sedih.
“Innalillahiwainnailaihirojiun, maaf yah Rem!”
“Iya, ga papa kok, lu ga salah” sahut Remmy.
KRINGGGGGG!!! Bel sekola berbunyi, bertanda pelajaran akan segera dimulai.
Percakapan Nobi dan Remmy pun terhenti, mereka mengambil buku dari tas masing-masing dan meletakkannya di atas meja. Terlihat seorang guru perempuan memasuki ruangan kelas 5 menit setelah bel berbunyi.
“Assalamualaikum and good morning” pinta guru itu ketika berdiri di depan kelas.
Karena hari ini adalah hari pertama siswa baru masuk sekolah maka belum ada proses belajar mengajar. Mereka hanya perkenalan. Berkenalan dengan guru barunya, sesama teman kelas, dan berkeliling bersama melihat kondisi sekolah barunya tersebut.
Nobita sangat senang karena tidak hanya bertemu dengan sahabat kecilnya Remmy tapi bisa mendapat teman-teman baru juga suasana sekolah baru dan cukup mewah. Sebelumnya Nobi hanya bersekolah di sekolah negeri yang biasa-biasa saja, itu karena orang tuanya tidak sempat mencarikan sekolah yang bagus ketika keluarganya pindah ke Makassar.
Ketika pulang sekolah, Nobita mengajak Remmy ikut dimobilnya. Karena kebetulan Remmy tidak bawa mobil akhirnya dia menerima tawaran Nobi. Ketika keluar dari gerbang sekolah, Nobita tidak menuju pulang, dia membelokkan mobilnya ke lorong kecil di samping sekolahnya.
“Eits, kita mau kemana nih, Nob?” tanya Remmy dengan wajah khawatir.
“Jangan khawatir, gue Cuma penasaran kok, ada apa di dalam lorong kecil ini, soalnya tadi pagi waktu gue lewat sini, ada suara gemuruh-gemuruh. Kita liat dulu yah!”
“Wah wah, jangan Nob! Siapa yang tahu kalo di sini tempatnya aman atau ga. Tuh liat aja, ga ada orang di sini. Yuk mutar balik aja, takut nih gue.” ajak Remmy.
“Ga usah panik, Rem! Gue yang tanggung jawab kok kalo ada apa apa. Lagi pula tempatnya emang ga ada orang tapi ga serem kok. Elu nya aja yang lebay!” ledek Nobita pada cowo sahabat kecilnya itu.
Remmy pun hanya duduk diam dengan wajah yang was-was. 5 menit kemudian, Nobita dan Remmy terkejut melihat apa yang ada di depan matanya. Pantai berpasir putih yang sangat indah, taman-taman bunga yang tertata rapi, dan ombak yang sangat indah.
“Wah, tempat seindah ini kok ga ada yang kunjungin.” sahut Remmy.
“Iyayah, padahal lorong di depan tadi kelihatan ga terurus tapi kok di sini keren banget yah. Eh, turun yuk!” ajak Nobita.
Mereka berdua turun dari mobil. 100 meter dari tempat berdirinya mereka, ada seorang perempuan remaja yang sedang menyapu daun-daun yang berguguran. Nobita melihat perempuan tersebut dan menghampirinya. Sedangkan Remmy berjalan menuju bibir pantai dan menikmati segarnya udara di tempat itu.
“Permisi mba” sapa Nobita pada gadis itu.
“Iya, mas. Ada perlu apa?” jawab gadis itu dengan wajah manis.
“Mau nanya tentang tempat ini…”
“Hm, saya sudah tahu maksud anda. Anda mau tahu kan siapa yang membuat tempat ini menjadi indah seperti sekarang dan anda juga mau tahu kan kenapa lorong di depan sangat tidak menarik untuk dikunjungi juga tidak ada keramaian di tempat segar seperti ini, kan?”
“Iya, tepat sekali. Kenapa ya mba?”
“Yang membuat taman bunga ini ayahku. Di sini rumahku, aku tinggal dengan keluargaku. Tanah ini warisan dari nenek yang sudah meninggal. Dan ketika keluargaku tinggal di sini, ayahku membuat suasananya seperti sekarang, asri, indah, dan sejuk. Tak ada seorang pun yang bosan dengan suasana seperti ini. Ayah juga sengaja tidak memperbagus lorong di depan itu, karena jika dibuat bagus seperti di dalam sini maka banyak orang yang tertarik dan berkunjung ke rumah kita. Eh, mas kok bisa ada di sini?”
“Oh, wah, keren banget konsep bokap lu. Hm, gue murid baru di SMA Dian Harapan. Dan tadi pagi gue penasaran banget dengan lorong kecil di depan itu. Akhirnya pas pulang skolah, gue ke sini deh. Dan ternyata di luar bayangan gue. Tempat ini sangat indah. Eh, itu rumah lu?”
“Iya, itu rumahku. Di dalem ada mama, papa, juga adikku, mau mampir ngeteh?”
“Ga usah, gue duduk di sini aja. Eh, temenan ama lu boleh ga?
“Ah? Hm, boleh lah, asal mas ini orang baik-baik.”
“Waduh, emang muka gue muka orang ga baik yah? Sumpah demi apapun, gue anak baik-baik kok! Beneran! Suer!”
“Iya iya, percaya kok mas.”
“Hm, lu skola di mana?”
“SMA Dian Harapan juga.”
“Hah? Oh yah? Kelas berapa?”
“Kelas X.2, kamu X.1 kan? Tadi saya ngeliat kamu kok waktu jalan ke kantin bareng teman kamu yang itu” sahut cewe itu sambil menunjuk pada Remmy yang sedang asyik menikmati angin sepoi-sepoi pantai.
“Lain kali gue masih boleh jalan-jalan ke sini kan? Kan sekarang kita udah temanan.” Sahut Nobi dengan ramah.
“Mana ada orang temanan tapi belum tau nama masing-masing.”
“Oh iya, lupa hehe. Nama gue Nobita, lu?”
“What? Nobita? Sama dengan nama tokoh kartun kesukaan gue! Nama gue Syilakhanza. Panggil Syila aja.”
“Oh, Syila. Hm, kata orang sih karena nama gue Nobita makanya gue harusnya suka tokoh kartun Nobita juga tapi gue ngga tuh, malah gue lebih suka sahabatnya Nobita, Doraemon, yang sikapnya lebih dewasa, juga ngga males kayak si Nobita hihi.”
“Aku suka Nobita dan kamu suka Doraemon. Mereka berdua kan sahabatan, mungkin aja suatu saat kita bisa sahabatan seperti mereka berdua”
“Hahaha, amin. Dan semoga aja lebih dari sahabat.”
“Hah?”
“Hehe, ga bercanda kok. Eh, gue balik sekarang yah, udah sore nih, sampai jumpa besok di skolah! Makasih udah mau kenalan dengan gue, Syila!” sahut Nobita sambil berjalan menuju mobilnya.
Syila hanya tersenyum dengan kehadiran teman barunya itu. Cowok yang sok kenal dan sok akrab juga polos dan menginginkan Syila untuk berteman dengannya. Mungkin cowok itu adalah teman SMAnya yang pertama, itu karena dari awal Syila masuk di sekolah itu, dia tidak ingin kenal satupun diantara teman sekolahnya. Syila berpendapat kalau siswa-siswi yang bersekolah di sana pasti kebanyakan orang yang berlebihan uang dan hanya bisa mengandalkan uang untuk hidupnya. Syila tidak suka dengan hal itu, dia lebih menyukai orang yang berusaha dengan benar dan mencapai kebahagiaan di hidupnya, tidak hanya mengandalkan hasil usaha dari orang tua mereka.
Keesokan harinya di sekolah, Nobita, Remmy, dan Syila tampak sering bersama ketika waktu istirahat. Dan ketika istirahat kedua, terdengar pengumuman bahwa pendaftaran ekskul bola basket dibuka mulai hari ini. Saat itu Nobita sedang ngemil makan bersama Remmy dan Syila. Dan saat itu juga, Nobita bergegas ke ruang ekskul basket dan antri mengambil formulir. Remmy juga Syila lantas kaget melihat respon Nobita saat itu. Mereka pun menyusul dan menggelengkan kepala bersamaan ketika melihat Nobita sedang antri di depan ruang ekskul basket.
“Ya ampun, Nobita lebay banget. Buat ngambil formulir ekskul basket aja semangat banget, sampe ga permisi ama kita berdua.” sahut Remmy.
“Iya, eh tapi gue juga niat nih daftar ekskul basketnya, gue ikut ngantri yah. Bye” Syila berjalan mejauhi Remmy.
Karena Remmy tidak begitu tertarik dengan dunia basket, akhirnya Remmy kembali ke kelas, mengambil i-podnya dan bersantai menunggu bel masuk berbunyi. Hingga Remmy pun tertidur pulas di bangku kelasnya.
Ternyata bel masuk tidak berbunyi sampai waktu pulang, tidak ada proses belajar mengajar, itu dikarenakan siswa yang antri ingin mengambil formulir ekskul basket hampir 80% dari jumlah keseluruhan siswa baru di SMA Dian Harapan. Memang 5 tahun belakangan ini, ekskul basket di sekolah tersebut adalah idola banyak siswa. Mungkin karena SMA Dian Harapan selalu memperoleh juara tingkat kota, provinsi, maupun nasional.
Untuk bisa masuk menjadi anggota ekskul basket, bukan hal yang mudah. Ada dua tes yang dilakukan, tes kesehatan dan tes fisik. Yang paling berat yaitu tes fisik. Di sini calon anggota ekskul basket dikuras tenaganya sebanyak mungkin, karena penilai ingin melihat batas kekuatan fisik masing-masing peserta. Seperti yang dikatakan hukum alam bahwa yang kuat yang adalah pemenang.
Keesokan harinya, Nobita dan Syila pun menjalani tes-tes tersebut, mereka sangat bersemangat. Tes tersebut berlangsung dari pukul 7 pagi hingga pukul 5 sore. Setelah itu Syila langsung bergegas pulang. Tiba-tiba dari belakang Syila mendengar suara klakson mobil. Orang itu Nobita, dia menawarkan Syila untuk diantar pulang, tapi sangat tidak logis, rumah Syila berjarak dekat sekali dari sekolah, hanya butuh waktu kurang lebih 5 menit. Tetapi Nobita tetap mengotot dan akhirnya Syila pun menyerah dan menerima tawaran Nobi.
Sesampainya di rumah Syila, ada adiknya yang sedang bermain kelerang sendirian di pesisir pantai. Syila pun menunjuk adiknya dan berkata pada Nobi.
“Itu adikku, namanya Osyi, dia SMP kelas 2 tetapi masih saja gemar main kelereng.”
“Hahaha, gak aneh kok, itu emang wajar bagi cowo, kalo cewe baru aneh.”
“Hm, tau gak, dia itu punya idola loh di sekolahnya, katanya kakak kelasnya tapi sekarang sudah SMA kelas X, dan dia gak tau sekarang kakak kelasnya itu sekolah dimana. Dia sangat sedih loh, padahal dia tau segalanya tentang kakak kelasnya itu kecuali tempat tinggalnya juga nomor teleponnya. Dia juga ngoleksi foto-foto kakak kelasnya itu, tapi gak pernah dikasi liat ke gue, katanya rahasia, namanya aja ga mau dikasi tahu ke gue. Dan dia gak pernah sempat kenalan dengan idolanya itu, soalnya katanya kakak kelasnya rada-rada sombong sama adik kelas. Sekarang Osyi sedih banget, kebanyakan murung di rumah.”
“Wah, saking idolanya sampe sedih banget yah?”
“Iya, ga tau tuh anak, lebay banget!”
“Eh, aku ga mampir yah, barusan ada sms dari bundaku, minta dianterin ke salon.”
“Oh, iya, makasih yah, Nob!” kata Syila sambil membuka pintu mobil.
Keesokan harinya di sekolah, telah tercantum daftar siswa-siswi yang lolos masuk ekskul basket. Banyak sekali yang berebutan ingin melihatnya di papan pengumuman sekolah. Salah satu digerombolan itu adalah Nobita. Dengan teliti Nobita mencari namanya di daftar tersebut. Dan ternyata namanya tercantum di urutan pertama dengan nilai 100 tes kesehatan dan 95 tes fisik. Dia juga melihat nama Syila tercantum pada urutan 12 kategori cewek.
Ketika istirahat Syila bergegas ke kelas Nobita. Cewek itu memberikan ucapan selamat pada Nobita karena telah memperoleh nilai paling tinggi pada tes ekskul basket.
“Wah, Nobita hebat banget! Selamat yah! Kok lo hebat banget sih? Pantesan lo waktu itu buru-buru banget daftar ekskul basket.”
“Haha, makasih. Biasa aja kok. Dari kecil gue emang gemar basket.”
“Wetss, asik banget lu, Nob!”
Setelah pulang sekolah, Nobita mengajak Syila untuk pulang bareng lagi. Syila sudah tau kalau dia menolak pasti Nobita tetap memaksa. Jadi dia hanya mengiyakan ajakan Nobita.
Satu tahun berlalu, Nobita, Syila dan Remmy sekarang sangat bersahabat. Mereka bertiga sering bersama di sekolah maupun di luar sekolah.
Suatu hari mereka janjian nongkrong bareng di Ice Café dekat sekolah pukul 4 sore tetapi Remmy tiba-tiba batal datang karena pacarnya minta ditemani mencari baju untuk perlombaan busana esoknya. Hal itu bisa dimaklumi oleh kedua sahabatnya karena mereka tau kalau Remmy sangat sayang pada pacarnya. Pacarnya juga kelihatan baik.
Akhirnya hanya Syila dan Nobita yang datang. Saat itu mereka berdua membawa laptop jadi mereka sibuk online dan tidak banyak ngobrol. Sampai pukul 7 malam, mereka hanya berdiam diri sambil sibuk dengan dunia maya masing-masing. Tetapi tiba-tiba tangan Nobi memegang tangan Syila. Syila pun  kaget dengan hal itu, ia langsung mengarahkan pandangannya pada Nobi.
“Gue sayang sama lo Syil! Lo sayang ga sama gue?”
“Hah? Hm, yaiyalah gue sayang sama lo juga sama Remmy, kita kan sahabat dan sahabat itu selalu ada kasih sayang di dalamnya, kan?”
“Tapi rasa sayang gue beda ke lo Syil. Gue cinta sama lo, dan mau ga lo jadi pacar gue?”
Syila kaget dan kaku ketika mendengar ucapan Nobita. Sebenarnya dari awal bertemu Syila sudah menyukai Nobi tetapi dia tidak langsung cinta. Cintanya pada Nobi tiba-tiba tumbuh ketika mendengar ucapan Nobi barusan. Tetapi Syila takut kalau hubungan spesial diantara mereka berdua akan merusak persahabatan mereka.
“Hm, jujur yah Nob. Gue juga sayang dan cinta sama lo, tapi bagaimana dengan persahabatan kita?”
“Sahabat tetap sahabat, kita menjalin dua ikatan. Pacar dan sahabat, bukankah itu bisa membuat kita untuk lebih saling mengerti?”
“Hm, jadi sekarang?”
“Kita pacaran!”
“Hehe, iyaiya. Eh, apa ini harus dikabarkan pada Remmy ga”
“Kabarin dong, tapi besok aja pas sekolah. Sekarang pulang yuk, udah malem.”
“Yuk, kamu pulang aja, ga usah nganterin, kan rumahku deket banget.”
“Gak gak gak, aku antar kamu pulang! Harus! Gak boleh nolak!”
“Hm, emang yah kamu tuh keras kepala banget dan kurang kerjaan banget. Rumah aku deket banget masih aja mau dianterin.”
“Kan aku pacar kamu, harus ngejagain kamu dong, hehe.”
“Hahaha”, Syila hanya tertawa mendengar perkataan Nobita yang sok ngegombal.
Sesampainya di rumah Syila, Nobita tidak mampir ke rumah pacarnya itu, selain karena sudah malam dia juga capek duduk online di kafe sejak tadi sore.
“Aku gak mampir yah, udah malem soalnya.”
“Iya, gapapa. Sampe rumah langsung istirahat yah.”
“Wah wah wah, Syila perhatiannya. Makin makin makin sayang deh.”
“Huh, sudah sana pulang! Aku masuk yah, bye! Makasih, hati-hati!”
“Iya, byeeee!”
Keesokan harinya di sekolah, Syila dan Nobita tampak dekat seperti biasanya, tidak ada tingkah laku yang berlebihan diantara mereka berdua. Dan ketika Remmy bergabung dengan mereka berdua, Nobita pun memberitahukan tentang apa yang terjadi kemarin sore di kafe.
“Wah, akhirnya kalian jadian juga. Lagian sih, Nobi curhat ke gue kalo dia sayang Syila. Terus Syila juga curhat kalo dia sayang Nobi. Susah banget yah satuin kalian berdua, sampe setahun lamanya.”
Mereka bertiga tertawa dan bercanda ria bersama sampai bel masuk berbunyi. Sepulang sekolah, Nobi dan Syila langsung ke ruang ekskul basket. Ekskul basket sekarang sudah jadi aktifitas rutin bagi mereka berdua. Semakin hari, prestasi Nobita di ekskul basket makin meningkat. Syila pun tak kalah hebat. Mereka berdua adalah ketua tim basket. Dan tak jarang mereka membawa pulang piala kemenangan.
Semakin hari hubungan Syila dan Nobi semakin harmonis. Kadang memang terjadi perbedaan pendapat diantara keduanya tetapi mereka selalu menanggapi perbedaan tersebut dengan kepala dingin. Mereka saling menghargai dan ketika ada salah paham, mereka selalu menyelesaikannya dengan baik-baik tanpa emosi.
Di suatu pagi ketika Nobi duduk berjemur di pinggir kolam renang rumahnya. Dia membayangkan betapa bahagianya hidupnya saat itu. Begitu baiknya Allah yang telah memberikan semua ini pada Nobi. Dia sangat bersyukur dengan keadaannya sekarang. Tetapi ada yang ganjal diantara semua ini. Nobi adalah pacar Syila tapi dia tak pernah sekalipun berbincang dengan adik Syila.
Sore harinya, Nobi pergi ke rumah Syila tanpa mengabari sebelumnya. Dia ingin kenal dengan adik pacarnya itu. Selama ini Nobi hanya ngobrol dengan ayah ibu Syila dan jarang sekali melihat adiknya.
Tetapi ketika perjalanan ke rumah Syila, mobil Nobi mengalami kecelakaan. Kecelakaan itu sangat tragis. Nobi terluka parah. Warga sekitar kejadian itupun membawanya ke rumah sakit. Dia harus dioperasi saat itu juga. Jadi tanpa menunggu kedatangan keluarga Nobi, akhirnya Nobi pun dioperasi.
Saat Syila, Remmy dan ayah ibu Nobi sudah berada di rumah sakit, operasi sudah usai. Hasilnya Nobita lumpuh. Kaki kanannya diamputasi. Berita yang sangat mengejutkan. Saat dokter memberitahukan hal tersebut ke mereka, suasana menjadi canggung dan hening. Kesedihan tiba-tiba tampak diwajah Syila, Remmy dan juga ayah ibu Nobi.
Saat itu semuanya hanya pasrah dan merasa tak sanggup menjenguk Nobi yang sedang berada di ruang operasi. Keadaan Nobi masih belum siuman. Semuanya hanya sanggup mengintip dari jendela ruang operasi dengan raut wajah yang sangat sedih. Tak ada harapan lagi bagi Nobi untuk bisa bermain basket kembali. Kecelakaan yang sangat menusuk banyak hati orang-orang di sekitar Nobi, termasuk Nobi sendiri.
Dua hari kemudian, Nobita pun sadar dari masa komanya. Saat itu, ia membuka matanya dengan perlahan-lahan, terlihat kabur di sampingnya ada seorang perempuan yang sedang duduk tersenyum melihat Nobi. Dan ternyata perempuan itu Syila. Syila tersenyum tetapi matanya yang sembab tak bisa ia sembunyikan. Dengan terbata-bata, Nobi bertanya pada Syila.
“Kenapa nangis, Syil? Gue sekarang udah sadar, ga usah sedih, nanti gue bakal sembuh kok. Dan bakal ngaterin lo kemana pun lo mau. Janji.”
Saat itu Syila makin tak bisa menahan tangisannya. Keluar lebih banyak lagi air mata dari matanya yang indah itu. Dan dengan suara yang sangat pelan, Syila menjawab.
“Ga perlu janji, Nob. Dengan keadaan lo kayak sekarang aja gue udah sayang banget ama lo. Ga usah beri janji-janji sama gue. Gue bukan cewe yang banyak maunya. Gue nerima lo apa adanya. Meskipun….” tangisan Syila makin menambah.

No comments:

Post a Comment