Wednesday, 12 June 2013

Mungkin Ini Yang Dia Rasakan Saat Ini

Apa yang menyenangkan dalam jarak sejauh ini? Aku tak bisa menatapmu dan jemariku tak bisa menyentuh lekukan wajahmu. Apa yang bisa kita harapkan dari jarak ratusan kilometer yang memisahkan kita? Ketika rasa rindu menggebu, dan kutahu kautak ada di sisiku. Sejauh ini kita masih bertahan, entah mempertahankan apa. Karena yang kurasa sekarang, cintamu tak lagi nyata; selebihnya bayang-bayang. 

Dalam jarak sejauh ini, mungkinkah kita masih saling mendoakan? Seperti saat kita dulu masih berdekatan. Aku tak lagi paham saat-saat dingin mencekam, kamu tak duduk di sampingku, juga tak mendekapmu dengan hangat. Aku tak lagi mengerti, saat air mataku terjatuh, hanya ada tanganku (bukan tanganku) yang menghapus basah di pipiku. Jelaskan padaku, apa yang selama ini membuatku masih ingin bertahan?

Aku hanya bisa menatap fotomu. Diam-diam merapal namamu dalam doa. Mendengar suaramu dari ujung telepon. Kulakukan semua seakan baik-baik saja, seakan aku tak terluka, seakan tak ada air mata; aku begitu meyakinkanmu, bahwa tak ada yang salah di antara kita. Dan, apakah di sana kaumemang baik-baik saja? Apakah rindu yang kita simpan dalam-dalam akan menemukan titik temu?

Sayang, aku lelah.

Pulanglah.

Wednesday, 5 June 2013

Jendela Motivasi

Memulai sebuah pekerjaan
Segala pekerjaan tak pernah lebih sulit daripada kelihatannya, bila anda telah memulai mengerjakan. Letakkan satu langkah kaki di depan langkah kaki yang lain. Ambil selembar kertas dari tumpukan, dan mulailah bekerja.

Mulailah menggali dan jangan berhenti. Jangan cari kenyamanan, tetapi buatlah kenyamanan. Rasakan kepuasan dan pencapaian saat apa yang anda kerjakan telah selesai. Tidak peduli apa yang anda kerjakan, berikan perhatian penuh, dan berikan yang terbaik.

Jangan terpikir untuk memberikan yang sempurna. Cukup yang berharga dan berguna. Nikmati dan hargai kerja anda. Banggalah karena anda mengerjakannya.

Pekerjaan yang anda kerjakan, apapun pekerjaan itu, adalah sebuah kesempatan. Kesempatan bagi anda untuk membuktikan orang macam apakah anda itu. Kesempatan untuk menciptakan sebuah perbedaan. Kesempatan untuk menghargai diri anda, dan orang disekitar anda.

Cinta Terlarang

Awalnya, semua terasa indah, terasa lahir kembali, terasa manis melebihi manisnya gula. Kamu memberiku harapan yang sangat menjanjikan. Kamu adalah sosok lelaki yang nyaris sempurna dimataku. Kamu, hanya kamu, ya, hanya kamu dihatiku.

Kamu beda, sangat beda dengan yang lain, tak ada duanya. Sikapmu sangat mencerminkan kedewasaan dan kebijaksanaan. Ketika berada di dekatmu, sangat nyaman hati ini, kamu memberikan kedamaian di hati dan fikiranku.

Tak ada sedikitpun cela yang memberiku ketakutan akan perginya kamu meninggalkanku, saat itu kuyakin kamu akan terus setia di sisiku. Tetapi hari demi hari berlalu, bahkan bulan demi bulan berlalu. Semuanya terasa hambar, tak ada kemajuan, kamu hanya memberiku seutas harapan yang tak bertujuan jelas.

Hingga suatu hari, kamu tak hanya sekedar memberiku harapan palsu, bahkan kau menusuk hatiku sedalam dan seluka-lukanya. Setelah berbulan-bulan aku dekat denganmu, kamu menjalin hubungan dengan perempuan lain. Rasanya sakit, sangat sakit. Tak ada yang bisa mengerti betapa sakitnya hati ini.

Kamu yang dulunya sangat bijaksana dimataku, kini berubah menjadi kebencian, Ternyata kamu sama saja dengan yang lain, tak ada bedanya. Bertahun-tahun aku memendam rasa cinta sekaligus rasa benci ini padamu. Banyak lelaki yang datang menghampiriku, tetapi entah mengapa masih hanya kamu, kamu, dan kamu dihati ini. Hati ini masih belum bisa menerima sosok lelaki selain dirimu.

Namun sejak saat itu, semuanya pun berubah drastis. Aku memulai lembaran baru dengan seseorang. Hanya dia yang bisa menghilangkan kesedihanku sejak bertahun-tahun yang lalu. Hanya dia yang bisa memberiku kenyamanan ketika berada didekatnya. Hanya dia yang kusayang dan kucinta. Kini aku hanya ingin menikmati ini semua karena aku mencintainya setulus hatiku.

Ketika Aku Mulai Memahamimu

Awalnya ini hanya perasaan kagum yang tak begitu kupedulikan, tapi ternyata aku salah, perasaan ini berkembang menjadi perasaan takut kehilangan yang suliat kuhindari. Aku mulai menyayangimu tanpa sepengetahuanmu. Semua berjalan seperti biasa dan aku semakin menikmati kedekatan kita yang entah harus diberi nama dengan status apa.

Aku tak pernah takut saat mencintaimu. Layaknya air laut yang mengikuti lekuk gelombang, seperti itulah aku membiarkan rasa cintaku terus mengalir tanpa kendali. Percakapan setiap malam yang kau selipkan lewat pesan singkat mampu menyeretku keperasaan yang dulu sangat ingin kuhindari, cinta. Kamu membuka mataku dengan tindakanmu yang ajaib, sampai-sampai aku tak lagi paham alasan yang harus kujelaskan, mengapa aku bisa begitu menggilaimu.

Cinta ini sangat tulus. Sungguh. Tak ada penuntutan yang kulakukan, aku juga tak mengganggumu, dan aku juga tak meminta status serta kejelasan. Aku tak seberani itukan? Kamu mengetahuiku juga mengenalku, tak mungkin jika kau tak menyadari ada perasaan berbeda dalam hatiku. Aku bisa menebak matamu, ketika kamu bercerita tentang dunia yang ingin kau singgahi, saat kau membawaku ke dalam dunia ceritamu yang sudah mulai kupahami. Aku berusaha memahami kemisteriusanmu.

Aku merasa sudah mulai memahamimu. Aku merasa punya kesempatan untuk sedikit mencicipi hidup menyenangkan bersamamu. Aku sanggup mengisi hari-harimu dengan kebahagiaan baru. Tapi, ternyata kita tak sejalan. Perhatian yang kusediakan khusus untukmu seakan menguap tak berbekas. Rasa cinta yang kuperjuangkan dengan sangat demimu seolah-olah tak pernah mampir sedikitpun dalam benakmu. Kau biarkan aku mengejar bayangan, sementara kenyataan yang sesungguhnya entah kau sembunyikan dimana. Batas kebahagiaan yang dulu kau jelaskan secara utuh padaku, kini buram dan hitam.

Tidak mungkin kau tidak tahu bahwa aku mencintaimu. Tidak mungkin kau tak memahami perhatian dan tingkah lakuku. Tidak mungkin hatimu begitu buta untuk mengartikan segalanya yang kurasakan terhadapmu adalah cinta! Apa hatimu sengaja kau kunci rapat untukku? Apa matamu sengaja kau butakan agar tak membiarkan bayanganku menyentuh retinamu?

Langkahku terus mencoba menggapaimu, jemariku merasa menggenggam tanganmu, namun, ternyata semua kosong. Kukira, percakapan kita adalah hal yang spesial bagimu. Kusangka, semua perlakuanmu terhadapku adalah bukti bahwa kau menganggapku istimewa. Nyatanya, aku salah menafsirkan. Bagimu, aku bukan siapa-siapa dan tak berarti apa-apa.

Aku tak bisa menahanmu pergi. Bahkan ketika kau memilih habiskan kebahagiaanmu bersama yang lain, kemudian membiarkan aku sendirian. Tanpa mengucapkan pisah dan tanpa kau tahu sudah ada yang tumbuh diam-diam di hatiku, cinta.

Ternyata, aku belum benar-benar memahamimu. Ternyata, aku belum benar-benar mengenalmu. Ternyata, kamu yang kuperjuangkan dengan sangat mendalam, tak sehebat yang kubayangkan.